Listrik Masuk Sawah: Solusi Krisis Air dan Peningkatan IP Pertanian Parepare
Sektor pertanian Kota Parepare, Sulawesi Selatan, dihadapkan pada sangat terbatasnya lahan, dengan total Luas Baku Sawah (LBS) hanya
753 hektare (243 ha irigasi dan 510 ha tadah hujan). Merespons hal tersebut, Tenaga Ahli Menteri Pertanian, Ir. Hermansyah, didampingi Kepala BRMP Aneka Umbi, Suwarny Sumardi, S.P., M.Si., dan PPL Parepare turun ke lapangan pada 7 Juli 2026. Dalam kunjungan tersebut, mereka memantau langsung sawah-sawah yang berpotensi untuk peningkatan Indeks Pertanaman (IP), serta meninjau calon lokasi irigasi pompa (irpom) dan bendungan untuk pengairan.
Dengan keterbatasan lahan tersebut, peningkatan IP sangat diharapkan namun terkendala ketersediaan air saat musim kemarau, sehingga beberapa kecamatan tidak bisa melakukan pertanaman. Sejumlah petani sebenarnya telah berupaya mandiri membuat sumur tanah dalam dengan pompa berbahan bakar gas maupun solar. Sayangnya, upaya adaptasi ini kembali terhambat oleh kondisi kelangkaan tabung gas dan solar di wilayah Parepare saat ini.
Sebagai solusi strategis atas masalah pengairan dan energi tersebut,
Ir. Hermansyah menekankan bahwa setiap wilayah pertanian harus memiliki akses listrik. Program "Listrik Masuk Sawah" dinilai menjadi jalan keluar paling efektif untuk mengatasi krisis air di Parepare. Guna mempercepat realisasinya, setiap Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) diminta untuk segera mengajukan permohonan jaringan listrik ke pihak PLN di wilayahnya masing-masing.
Di samping masalah air, minimnya Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) di tingkat kelompok tani juga menjadi kendala akibat belum terbentuknya Brigade Pangan (BP). Selain itu, pengusulan 21 unit Irpom turut terhambat oleh syarat Petunjuk Teknis yang mewajibkan minimal hamparan lahan
5 hektare, padahal rata-rata lahan di Parepare hanya 3-4 hektare. Terkait kendala ini, solusinya akan segera didiskusikan secara langsung dengan Direktur terkait di bidang Alsintan agar aturan dapat disesuaikan dengan realitas di lapangan.